ViralGen Referral Shopping
Tampilkan postingan dengan label Artikel Komunitas Pembelajar - Adi W. Gunawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Komunitas Pembelajar - Adi W. Gunawan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 April 2013

Bahagia Dalam Keheningan

Seorang klien datang ke saya untuk minta tolong. Masalah klien ini yaitu dia merasa hidupnya saat ini hampa. Padahal ia bukan orang sembarangan. Telah banyak yang ia capai dalam hidupnya. Karir dan bisnisnya cemerlang. Keluarganya juga sangat ok. Terus, apa yang salah dengan klien ini?
Setelah berdikusi beberapa saat saya menemukan apa yang menjadi akar masalahnya. Ternyata ia jarang memberikan waktu untuk dirinya sendiri. Pikirannya terlalu aktif. Keinginannya banyak dan ia ingin mencapainya sekaligus sehingga ia merasa ada tekanan yang sangat tinggi.
Apa yang saya sarankan untuk ia lakukan? Mudah. Saya hanya minta klien ini melakukan meditasi setiap pagi sekitar 30 menit.
Waktu mendengar saran ini reaksinya adalah, “Lho, kok meditasi? Saya justru merasa kalau waktu saya ini sangat kurang. Saya berharap kalau bisa satu hari bukan 24 jam tapi 30 jam”.
Pembaca, mengapa saya menyarankan klien ini melakukan meditasi?
Alasannya begini. Saat kita (sangat) sibuk maka pikiran kita sangat aktif. Aktifnya pikiran tentu akan sangat menguras energi (psikis) kita. Pikiran yang aktif ini membuat tungku mental kita panas. Belum lagi emosi atau mood yang kurang kondusif akibat tekanan pekerjaan. Semua ini membuat diri kita lemah.
Jika diibaratkan gelas yang berisi air dan ada partikel atau pasir di dalamnya maka saat pikiran aktif yang kita lakukan adalah kita mengaduk-aduk isi gelas. Apa yang terjadi? Isi gelas akan menjadi keruh karena pasir akan naik .
Saat kita bermeditasi maka sebenarnya yang kita lakukan adalah mendiamkan isi gelas (baca: pikiran) dan memberikan waktu pasir untuk turun dan mengendap. Setelah itu air akan menjadi bening dan jernih. Saat itu pikiran kita menjadi segar dan kuat.
“Lho, bukankah untuk membuat pikiran kuat kita perlu sering-sering menggunakannya?”
Inilah pemahaman yang kurang tepat yang diyakini kebanyakan orang. Untuk membuat pikiran kuat maka kita perlu melatihnya. Melatih pikiran tidak sama dengan melatih otot tubuh. Ajahn Chah, guru meditasi dan spiritual yang sangat luar biasa, pernah berkata, “Menguatkan pikiran tidak dapat dilakukan dengan menggerakkannya seperti menguatkan tubuh , tetapi dengan membuatnya diam, beristirahat, tenang, dan hening.”
Mengapa kita perlu hening?
Ada sangat banyak manfaat yang bisa kita dapatkan. Saat hening sebenarnya kita mengistirahatkan pikiran dan melakukan charging aki psikis kita. Saat aki psikis kita terisi penuh, fully charged, maka menjadi tenang, dan pengendalian diri kita meningkat.
Saat aki psikis “penuh” maka kita tidak akan mudah goyah atau terprovokasi dengan berbagai kejadian yang kita alami. Ibarat sebuah gentong yang terisi penuh oleh air maka tidak akan mudah untuk bisa menggoyang gentong ini. Namun bila gentongnya kosong siapa saja akan sangat mudah menggoyang dan kalau perlu menggulingkan gentong ini.
Anda mungkin bertanya, “Pak, maksudnya “penuh” itu seperti apa?”
Nah, ini yang saya nggak bisa jelaskan karena anda perlu mengalaminya sendiri. Saat anda melakukan meditasi maka anda pasti akan bisa merasakan apa yang saya maksudkan. Saat kita “penuh” maka kita akan merasa puas dan nyaman.
Saat pikiran hening kita bisa melakukan sangat banyak hal. Stillness speaks. Ibu Teresa menggambarkan keheningan dan hubungannya dengan spiritualitas dengan pernyataan,”Tuhan adalah sahabat keheningan. Lihat bagaimana alam – tanaman, rumput tumbuh dalam keheningan; lihat bintang-bintang, bulan, dan matahari, bagaimana mereka bergerak dlaam keheningan. Kita butuh keheningan untuk menyentuh jiwa”.
Meditasi tidak hanya memberikan efek positif untuk diri kita namun juga untuk orang-orang di sekitar kita. Saat kita tenang, hening, dan damai maka kita akan menyebarkan vibrasi energi positif yang luar biasa. Dan sesuai dengan hukum LOA, likes attract likes, saat vibrasi energi kita positif maka kita akan menarik hal-hal, kejadian, situasi, orang, keadaan, sumber daya, atau apapun yang serupa dengan vibrasi kita.
Efek positif lainnya adalah bila kita sering bermeditasi dan berada di gelombang theta dan khususnya delta maka power kita akan meningkat luar biasa. Saya mendapat informasi ini dari Tom Silver saat saya belajar langsung dengannya. Saya bisa merasakan kharisma dan power yang ia pancarkan ke sekelilingnya. Saat saya bertanya, “Tom, how can you be so powerful?” Dengan tersenyum ia berkata, “The secret is in your delta. The higher amplitude of your delta, the more power you have.”
Wow… ini baru informasi berharga. Dan hal ini benar adanya. Saya sempat bertanya pada seorang kawan, yang kebetulan juga seorang pembicara publik dari Jakarta, “Pak, apa yang membedakan presentasi anda dengan rekan pembicara lain? Saya melihat materi anda sebenarnya bisa dibawakan oleh orang lain. Namun herannya efek yang anda ciptakan sangat berbeda dan lebih powerful, membekas di hati, dan sungguh luar biasa. Apa rahasianya?”.
Rekan ini dengan tersenyum dan berbisik, “Sstt… saya selalu melakukan “charging.” “Maksudnya?” kejar saya lagi. “Saya mendapat power yang luar biasa saat diam dalam hening. Ini saya lakukan setiap pagi” jawabnya.
Lalu, bagaimana kita melakukan meditasi?
Ada banyak cara melakukan meditasi. Meditasi adalah kondisi kesadaran, bukan teknik. Apapun teknik yang digunakan tidak penting. Yang penting adalah kita bisa masuk ke kondisi meditatif. Inilah yang saya pelajari dari Anna Wise.
Ada 40 objek yang bisa digunakan untuk meditasi. Dalam kesempatan ini saya menyarankan anda untuk menggunakan objek pikiran anda sendiri yaitu dalam bentuk imajinasi.
Berikut cara anda melakukan meditasi: • Sediakan waktu untuk hening selama sekitar 30 menit. • Pastikan anda tidak terganggu selama meditasi. Matikan HP atau telpon. Bermeditasilah di ruang yang tenang dan nyaman. • Ambil posisi duduk yang nyaman. Tidak harus dalam posisi bersila. Lebih baik jika anda duduk santai di kursi, kaki menapak lantai, dan punggung anda bersandar. • Putar musik lembut (jika ini bisa membuat anda lebih rileks). • Tutup mata dan ciptakan suasana atau pemandangan alam yang sangat anda sukai. Tempat yang pernah anda kunjungi atau yang ingin anda kunjungi. Beradalah di tempat ini seorang diri dan rasakan perasaan nyaman, tenang, damai, dan bahagia. Gunakan semua indera anda untuk mengalaminya. • Nikmati suasana ini selama yang anda inginkan. • Jika sudah dirasa cukup, keluarlah dari kondisi meditasi dengan perasaan nyaman, damai, dan bahagia.
Kembali pada klien saya. Setelah melakukan saran saya dua hari kemudian ia mengirim sms yang berbunyi, “Selamat pagi Pak Adi. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa metode meditasi sederhana yang bapak ajarkan benar-benar dahsyat. It works. I mean it really works. So simple, so easy, and so effective. Sejak melakukan hal ini segala sesuatu di sekeliling saya tampak berubah begitu ramah, menyenangkan, dan enak tenan. Salam hangat…..”
So pembaca, bermeditasilah setiap pagi, minimal 30 menit. Masuklah ke dalam diri dan alami hal luar biasa yang tidak akan pernah bisa anda dapatkan di luar diri.
* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pakar pendidikan dan mind technology dan neuro-feedback, pembicara publik, dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis empat belas best seller “Born to be a Genius”, “Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success”, “Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?”, “Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication”, “Becoming a Money Magnet”, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, dan “Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring”, “Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian”, “Kesalahan Fatal Dalam Mengejar Impian 2, dan “Five Principles to Turn Your Dreams Into Reality”, The Secret of Mindset, Quitters Can Win, dan Quantum Life Transformation. Adi dapat dihubungi melalui facebook: Adi W. Gunawan, email adi@adiwgunawan.com, www.adiwgunawan.com,www.quantum-hypnosis.com ,dan www.QLTI.com

Apakah Memaafkan Sama Dengan Melupakan?

Di milis Money Magnet baru-baru ini ramai dibahas mengenai memaafkan dan melupakan. Ada yang mengalami suatu pengalaman yang menyakitkan dan merasa sulit untuk memaafkan. Ada yang merasa sudah memaafkan namun kok nggak bisa melupakan. Apakah memaafkan sama dengan melupakan?
Saya menjelaskan mengenai efek dan khasiat memaafkan di artikel Forgiveness is The True Healer. Ini adalah artikel yang saya posting di web saya beberapa waktu lalu.
Bagaimana sih kok kita ini sampai bisa punya masalah, khususnya yang berhubungan dengan emosi negatif?
Sebenarnya semua emosi itu positif. Namun untuk memudahkan penjelasan maka saya “mengkategorikan” emosi seperti marah, kecewa, dendam, benci, terluka, sakit hati, perasaan bersalah, takut, cemas, khawatir, dan kawan-kawannya sebagai emosi negatif. Emosi negatif adalah emosi yang bila kita rasakan atau alami akan sangat mengganggu kita.
Pertanyaannya sekarang adalah, “Dari manakah sebenarnya emosi ini?”
Emosi muncul sebagai hasil dari suatu pemaknaan. Setiap kejadian adalah netral. Tidak ada kejadian yang baik atau jelek. Semua bergantung pada diri kita sendiri. Kita memberikan makna pada kejadian itu berdasarkan persepsi kita. Persepsi dipengaruhi oleh belief system kita. Jadi, ujung-ujungnya sebenarnya bicara soal belief system atau sistem kepercayaan.
Nah, begitu kita memberikan makna pada suatu kejadian atau peristiwa maka emosi yang muncul bisa berupa emosi positif, emosi negatif, atau netral.
Lalu, bagaimana kita bisa melupakan dan memaafkan, atau memaafkan dan melupakan?
Pertama, yang perlu diluruskan adalah kita bisa memaafkan namun kita tidak akan bisa melupakan. Semua yang pernah kita alami tersimpan di memori di pikiran bawah sadar kita. Yang kita lakukan, khususnya hipnoterapis, adalah menetralisir emosi negatif dengan teknik terapi tertentu. Selama emosi negatif ini tidak berhasil dinetralisir maka kita akan selalu diganggu oleh memori tersebut. Memori ini kadang muncul, kadang hilang. Nanti muncul lagi, lalu hilang lagi. Demikian seterusnya.
Sebelum saya teruskan, ada yang perlu saya jelaskan mengenai memori. Memori adalah data yang disimpan di pikiran bawah sadar kita.
Data ini berisi beberapa hal yang berhubungan dengan suatu kejadian atau peristiwa, antara lain:
1. Waktu terjadinya
2. Lokasi kejadian
3. Siapa saja yang terlibat
4. Gambar/image
5. Suara
6. Bau
7. Rasa
8. Sensasi perabaan
9. EMOSI.

Yang membuat masalah sebenarnya bukan komponen 1 sampai 8, tapi yang no 9, emosi. Komponen emosi muncul sebagai hasil dari pemaknaan.
Nah, untuk memaafkan maka kita harus bisa menetralisir emosi ini. Selama emosi tidak berhasil dinetralisir maka kekuatan penolakan, untuk tidak memaafkan, akan sangat kuat. Re-edukasi pikiran bawah sadar, misalnya memberikan pemaknaan baru terhadap kejadian yang tadinya dirasa menyakitkan, baru bisa berjalan efektif, mudah, dan permanen saat emosi ini telah kita bereskan. Untuk lebih jelas mengenai hal ini bisa membaca Teori Tungku Mental.
Setelah emosi dibereskan maka kita tetap bisa mengingat semua kejadian atau pengalaman namun sudah tidak lagi terpengaruh. Kita mengingat pengalaman itu hanya sebagai suatu kenangan dengan intensitas emosi yang netral.
Saat emosi berhasil dibereskan, saat inilah kita dinyatakan sembuh. Jadi yang menjadi sumber masalah selama ini adalah emosi (negatif).
Apakah membereskan emosi harus dengan menggunakan hipnoterapi?
Wah ya nggak lah. Ada banyak teknik untuk bisa membereskan emosi ini. Di QHI saya mengajarkan banyak teknik terapi dan variasinya. Cara yang umumnya digunakan orang adalah dengan berusaha mengikis emosi ini sedikit demi sedikit seiring dengan perjalanan waktu. Mereka berkata, “Time will heal the wound” atau “Waktu yang akan menyembuhkan luka ini”. Ada lagi yang mencoba dengan memberikan pemaknaan ulang, secara sadar. Ada yang menggunakan pendekatan spiritual, dengan doa. Ada lagi yang curhat, atau menggunakan teknik konseling. Dan masih banyak lagi deh.
Nah, dari pengalaman saya, yang paling cepat adalah dengan menggunakan EFT. Ini yang paling mudah. Apalagi kalau menggunakan Hypno-EFT. Dijamin lebih cespleng. Bisa juga pake NLP. Dan kalo semua nggak bisa, terpaksa pake jurus pamungkas, memaafkan dengan bantuan hipnoterapi.
Apa beda masing-masing teknik terapi ini?
Jika menggunakan NLP maka kita tidak akan mengotak-atik konten. Kita tidak perlu tahu apa yang terjadi. Pertanyaan yang diajukan tidak pernah, “Mengapa ini terjadi?” tapi “Bagaimana anda membuat emosi ini muncul?” Di sini yang dicari adalah strategi yang mengakibatkan suatu emosi muncul. Terapi dilakukan dengan mengubah strategi sehingga tidak bisa memunculkan emosi itu lagi.
Dengan menggunakan Hypno-EFT maka kita memotivasi klien untuk berubah dan melepaskan emosi negatifnya. Ini adalah pendekatan waking hypnosis. Selanjutnya kita mengotak-atik jalur meridien tubuh, dengan melakukan ketukan pada titik-titik di tubuh dan dengan urutan tertentu. Hasilnya? Sangat efektif. Saya bahkan sering menerapi klien jarak jauh dengan menggunakan Hypno-EFT. Yang sering saya demonstrasikan adalah bagaimana dengan cepat menyembuhkan phobia ular. Biasanya hanya butuh waktu sekitar 2 menit.
Kalau dengan hipnoterapi caranya berbeda lagi. Kita akan menggunakan teknik tertentu untuk menemukan akar masalah dan melepaskan emosi negatif yang selama ini mengganggu hidup klien. Selanjutnya pikiran klien anda direedukasi, memberikan pemaknaan baru, dan melakukan forgiveness.
Emosi yang saya maksudkan di sini tentunya emosi negatif yang menggangu hidup kita. Namun, apakah emosi positif juga bisa dinetralisir atau dihilangkan? Bisa.
Ada teknik yang bisa dengan sangat cepat menetralisir baik emosi positif maupun negatif. Bahkan perasaan cinta juga bisa kita hilangkan dengan sangat cepat. Semua bergantung kebutuhan, situasi, dan kondisi. *) Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pakar pendidikan dan mind technology,pembicara publik, dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis dua belas best seller “Born to be a Genius”, “Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success”, “Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?”, “Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication”, “Becoming a Money Magnet”, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, dan “Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring”, “Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian”, “Kesalahan Fatal Dalam Mengejar Impian 2, dan “Five Principles to Turn Your Dreams Into Reality”, dan The Secret of Mindset . Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com dan www.adiwgunawan.com , www.QLTI.com

Altered State of Consciousness: WHAT and HOW?

Oleh: Adi W Gunawan
Dunia pikiran adalah semesta maha luas dan dalam tak berbatas yang sangat menggoda untuk dijelajahi. Segala sesuatu yang berhubungan dengan pikiran sudah pasti juga berhubungan dengan (kondisi) kesadaran. Setiap saat pikiran bergerak dengan sangat cepat dan sulit dikendalikan. Dalam sekejap kita bisa beralih kesadaran.

Bila berdiskusi tentang kesadaran umumnya orang hanya mengenal dua kondisi yaitu sadar dan tidak sadar. Yang dimaksud dengan kondisi sadar adalah keadaan pikiran aktif dan mampu mengenali sekitarnya. Sedangkan kondisi tidak sadar biasanya dihubungkan dengan keadaan tidur lelap di mana hubungan antara dunia dalam diri dan dunia di luar telah “terputus”.
Tahukah anda bahwa antara kondisi sadar dan tidak sadar ini terbentang lapisan kesadaran yang sangat halus dan sangat beragam yang seringkali kita masuki , baik disengaja atau tidak, namun kita tidak sadar sedang berada dalam kondisi itu?
Untuk bisa mengenali kondisi kesadaran yang “lain” dari biasanya maka kita membutuhkan satu acuan atau baseline. Kondisi kesadaran yang biasa kita alami dalam keseharian atau disebut dengan kondisi kesadaran normal inilah yang kita gunakan sebagai baseline state of consciousness (b-SoC). Dengan demikian semua kondisi kesadaran yang “di atas” atau “di bawah” baseline adalah kondisi kesadaran lain dan kita sebut dengan Altered State of Consciousness (ASC).
Lalu, apakah Altered State of Consciousness (ASC)? ASC adalah suatu konfigurasi subsistem dari struktur psikologis dengan pola unik, dinamis, dan aktif. Struktur psikologis merujuk pada organisasi komponen bagian yang relatif stabil yang menjalankan satu atau lebih fungsi psikologis. Contoh ASC antara lain kondisi tidur, kondisi hipnosis, kondisi meditatif, kondisi kesadaran saat tegang, takut, atau waspada, atau kondisi kesadaran di bawah pengaruh alkohol atau obat penenang.

Sebagai suatu kondisi kesadaran ASC distabilkan oleh empat proses:
1.Loading Stabilization : proses stabilisasi ini membuat perhatian atau kesadaran dan energi psikis terpusat pada suatu struktur yang diinginkan dengan membanjiri sistem psikologis seseorang dengan tugas tertentu sehingga sistem tidak punya sisa energi untuk melakukan hal lain.
 2.Negative Feedback Stabilization: proses stabilisasi ini bertujuan mengoreksi fungsi struktur atau subsistem psikologis bila mereka menyimpang terlalu jauh dari rentang operasi normal sehingga dengan demikian sistem dipastikan kembali stabil.
3.Positive Feedback Stabilization: proses stabilisasi ini bertujuan memperkuat aktivitas dan atau memberikan pengalaman yang menyenangkan saat struktur atau subsistem psikologis berfungsi dan berjalan dalam koridor atau batasan yang telah ditentukan.
 4.Limiting Stabilization: proses stabilisasi ini membatasi rentang atau jangkauan fungsi struktur dan subsistem psikologis yang bila beroperasi secara intensif akan membuat sistem menjadi tidak stabil.

Loading Stabilization dapat, pada kasus tertentu, menjadi Limiting Stabilization namun kedua jenis stabilisasi ini tidaklah sama. Limiting Stabilization secara langsung mempengaruhi struktur atau subsistem tertentu, sementara efek dari Loading bersifat tidak langsung dan beroperasi lebih banyak dengan cara mengkonsumsi energi dan bukan mempengaruhi struktur secara langsung.
Keempat proses yang dijelaskan di atas bertujuan agar ASC menjadi stabil sehingga seseorang bisa tetap berada dalam kondisi kesadaran itu, dalam rentang waktu tertentu.

Untuk mudahnya begini. Keempat proses ini kita analogikan sebagai strategi untuk mengendalikan seseorang agar menjadi warga negara yang baik, yaitu dengan cara:
1.Kita menyibukkan dia dengan kegiatan yang menjadikannya warga negara yang baik, sehingga ia tidak punya waktu dan energi untuk melakukan hal lain.
2.Kita memberikan hadiah bila ia melakukan hal-hal yang baik atau positif.
3.Kita menghukum dia bila ia melakukan kegiatan yang tidak kita ijinkan atau inginkan.
4.Kita membatasi kesempatannya untuk melakukan hal-hal yang tidak kita ijinkan.

Saya beri contoh lain agar penjelasan di atas lebih mudah dimengerti. Pernahkah anda mengalami, pada suatu saat, misalnya, pikiran anda sangat fokus memikirkan sesuatu, membaca buku, chatting, atau mengetik di komputer anda? Jawabannya pasti pernah.

Pertanyaan berikutnya, “Pernahkah anda, dalam kondisi yang sangat fokus ini, tiba-tiba diajak bicara oleh seseorang, misalnya rekan kerja, anak, suami atau istri?” Jawabannya juga pasti pernah.
Sekali lagi saya bertanya, “Saat anda dalam kondisi yang sangat fokus dan ditanya atau lebih tepatnya pola fokus anda diguncang oleh stimulus dari luar apa yang anda rasakan atau lakukan?”

Saya yakin anda pasti akan mengalami antara lain hal berikut:
1.Mengabaikan stimulus yang berasal dari luar. Dengan kata lain anda tidak menanggapi pertanyaan atau stimulus ini karena ada sedang sangat fokus.
2.Anda berusaha menanggapi pertanyaan atau memberikan respon pada stimulus ini namun merasa sangat malas dan tidak nyaman.
3.Anda membutuhkan upaya ekstra untuk bisa mengalihkan perhatian atau pikiran anda yang sedang sangat fokus pada sesuatu hal untuk bisa memberikan respon yang baik. Ini menimbulkan perasaan tidak nyaman.
4.Saat anda kembali pada kondisi fokus, seperti yang sebelumnya anda rasakan dan alami, maka perasaan anda menjadi nyaman kembali.

Empat hal yang saya jelaskan di atas sebenarnya adalah hasil kerja dari empat proses yang menstabilkan ASC, yang sedang kita alami pada suatu saat, yaitu Loading, Positive Feedback, Negative Feedback, dan Limiting Stabilization.
Lalu, bagaimana caranya untuk membawa seseorang berpindah dari kondisi kesadaran normal ke dalam kondisi ASC?

Untuk membimbing seseorang berpindah dari kondisi kesadaran normal (b-SoC) masuk ke kondisi ASC melibatkan dua operasi dasar induksi berikut:
1.Pertama kita menggunakan disrupting force atau daya pengguncang pada b-SoC berupa tindakan psikologis atau fisiologis yang mengguncang proses stabilisasi, baik dengan mengintervensi atau dengan menarik perhatian,fokus, atau energi dari proses stabilisasi. Jika induksi ini berhasil maka daya pengguncang akan mendesak berbagai struktur atau subsistem ke ambang batas kestabilan fungsi dan selanjutnya melampaui batas ini dan dengan demikian merontokkan integritas sistem dan mengguncang kestabilan b-SoC sebagai suatu sistem. Setelah itu dilanjutkan dengan….
2.Di tahap kedua proses induksi kita menggunakan patterning forces atau daya pembentuk pola selama masa transisi baik berupa tindakan psikis dan atau fisik dengan tujuan membentuk pola stuktur atau subsistem menjadi suatu sistem baru, yaitu ASC yang diinginkan. Selanjutnya sistem baru ASC harus membangun proses stabilisasiya sendiri jika ingin bisa bertahan.
De-induksi, proses membawa subjek keluar dari ASC kembali ke b-SoC, sama dengan proses induksi. Dalam hal ini disrupting force digunakan untuk mengguncang kestabilan ASC sehingga terjadi periode transisi dan selanjutnya b-SoC direkonstruksi dengan menggunakan patterning force.

Operasi Induksi: Guncang (Disruption) dan Pembentukan Pola (Patterning)
Operasi induksi yang pertama adalah mengguncang kestabilan b-SoC, mengganggu proses loading, positive dan negative feedback, dan limiting stabilization yang menjaga struktur psikologis beroperasi dalam rentang normal.
Dengan demikian, dalam operasi awal, untuk menghasilkan ASC, perlu dilakukan guncangan pada proses stabilisasi hingga satu titik di mana pola kesadaran normal tidak dapat lagi bertahan. Jika, misalnya, guncangan hanya dilakukan pada satu atau beberapa proses stabilisasi maka proses stabilisasi lainnya akan tetap mempertahankan keutuhan dan integritas sistem sehingga induksi yang dilakukan tidak menghasilkan ASC.

Proses stabilisasi dapat diguncang secara langsung bila mereka dapat dikenali, atau bisa dengan cara tidak langsung yaitu mendorong fungsi psikologis tertentu melampui batas fungsinya sehingga menjadi tidak stabil. Subsistem ini, misalnya, dapat diguncang dengan cara membanjirinya dengan stimuli, menghambat stimuli sehingga tidak mencapai subsistem sehingga subsistem kehilangan stimuli, atau memberikan susbsitem stimuli yang “aneh” yang tidak dapat diproses dengan cara biasa.
Selain cara di atas, untuk mengguncang proses stabilisasi fungsi b-SoC dapat juga menggunakan obat. Demikian pula setiap prosedur yang melibatkan fungsi fisiologis secara intens seperti kondisi kelelahan yang parah atau olahraga.
Operasi induksi yang kedua adalah menerapkan daya pembentuk pola, stimuli yang selanjutnya mendorong fungsi psikologis yang telah goyah menuju pola baru yang diinginkan yaitu ASC.
Sekarang mari kita lihat tiga contoh induksi untuk menghasilkan ASC, semua diawali dari kondisi sadar normal (b-SoC): proses masuk kondisi tidur, induksi hipnosis, dan praktik meditasi.

Masuk ke Kondisi Tidur
Proses masuk ke kondisi tidur biasanya diawali dengan kita berbaring dalam ruangan yang tenang dengan penerangan yang redup, selanjutnya menutup mata, dan menjadi rileks, tenang, nyaman. Hal ini serta merta menghilangkan sangat banyak loading stabilization yang membantu menjaga kondisi kesadaran normal (bangun).
Dalam kondisi yang tenang ini hanya ada sedikit stimuli yang diterima pikiran sehingga tidak dibutuhkan energi untuk memproses stimuli ini. Energi psikis lainnya, yang tidak terpakai, menjadi bebas. Sebagian dari energi yang terbebas ini ada yang beralih fungsi menjadi energi yang meningkatkan imajinasi atau bentuk-bentuk pikiran. Dengan semakin berkurangnya energi yang dibutuhkan untuk memproses stimuli dari lingkungan maka loading stabilization menjadi semakin lemah dalam menjaga kondisi kesadaran normal.
Berbaring dan rileks menghilangkan sumber loading stabilization utama lainnya yaitu input sensori yang berasal dari tubuh. Dalam kondisi ini input dari tubuh sangat minim. Dalam kondisi ini orang umumnya akan mengambil sikap bahwa tidak ada yang perlu dikerjakan, tidak ada goal yang perlu dicapai, tidak ada masalah yang perlu diselesaikan, tidak ada hal penting yang perlu diperhatikan. Sikap ini mengakibatkan pola yang selama ini menjaga kondisi kesadaran normal menjadi lemah, semakin lemah, dan akhirnya luruh dengan sendirinya. Dengan demikian kita masuk ke kondisi tubuh dan pikiran yang pasif, rileks, dan nyaman.
Kondisi pasif ini bila berlanjut akan menarik keluar energi perhatian/kesadaran dari proses feedback stabilization. Tanpa adanya hal yang harus diperhatikan atau dijaga maka tidak ada kebutuhan untuk mengawasi dan mengkoreksi penyimpangan fungsi. Dengan demikian pikiran akan masuk ke kondisi yang lebih rileks lagi yang disebut dengan kondisi hypnagogic dan selanjutnya masuk ke kondisi tidur.
Masuk ke Kondisi Hipnosis
Ada sangat banyak cara atau prosedur untuk membawa subjek masuk ke kondisi hipnosis. Namun bila diperhatikan dengan saksama, semua prosedur ini mengikuti pola umum yang mirip atau sama. Langkah pertama, biasanya, adalah dengan meminta subjek untuk duduk atau berbaring di kursi dengan nyaman. Hal ini bertujuan agar subjek tidak perlu melakukan upaya apapun untuk mempertahankan posisi tubuhnya. Seluruh tubuh subjek, mulai dari kaki hingga kepala, tersangga dengan baik oleh kursi sehingga terasa sangat nyaman. Subjek juga diminta untuk pasrah dan merilekskan tubuhnya serileks mungkin.

Langkah ini mengakibatkan beberapa efek.
Pertama, jika subjek merasa cemas, yang mana perasaan cemas ini tampak dalam bentuk ketegangan di tubuh, maka dengan merilekskan tubuhnya, perasaan cemas ini menjadi banyak berkurang. Dengan mengurangi dan membatasi kecemasan dalam diri subjek akan memudahkan subjek untuk masuk ke kondisi ASC, dalam hal ini kondisi hipnosis.
Saat tubuh rileks dan diam maka jumlah stimuli yang tadinya diterima oleh reseptor gerak yang ada di sekujur tubuh menjadi sangat berkurang, mirip dengan kondisi saat akan tidur. Dengan demikian keseluruhan tubuh mulai kehilangan kesadaran dan larut dalam keadaan rileks dan berakibat pada hilangnya loading stabilization dan patterning force yang selama ini menjaga kondisi kesadaran normal (b-SoC).
Kedua, operator (hipnotis/hipnoterapis) meminta subjek untuk fokus pada suara si operator dan mengabaikan bentuk pikiran atau sensasi yang masuk ke pikiran subjek. Dalam kondisi normal pikiran subjek akan aktif melakukan scanning memperhatikan kondisi dan situasi di lingkungannya guna menemukan stimuli yang penting di sekitarnya.
Upaya scanning terus menerus ini membuat berbagai subsistem aktif dan saling bertukar informasi dan energi sehingga subsistem cenderung terjaga dalam kondisi pola kesadaran normal (terjaga/bangun). Dengan menarik energi perhatian/kesadaran dari tindakan memindai lingkungan subjek menarik sejumlah besar energi psikis dan menghentikan aktivitas pada sejumlah subsistem dan mengakibatkan proses loading dan patterning terganggu dan menjadi lemah.
Ketiga, operator biasanya akan meminta subjek untuk tidak perlu memikirkan apa yang dikatakan oleh operator namun cukup hanya mendengar secara pasif dan mengijinkan apa yang diucapkan operator dengan mudah terjadi, dialami, dan dirasakan oleh subjek. Dalam kondisi kesadaran normal subjek cenderung akan terus berpikir, melakukan analisis atas apa yang ia dengar atau rasakan. Dengan meminta subjek untuk tidak berpikir dan pasrah menjalankan bimbingan operator maka hal ini mengakibatkan loading stabilization menjadi lemah sehingga subjek mudah dibimbing masuk ke kondisi hipnosis (ASC).
Keempat, subjek biasa diminta untuk memusatkan perhatian pada satu objek tertentu, di samping suara operator, misalnya satu titik di tembok, cincin yang dipakai operator, api lilin, pendulum, hypnotic disc, dan sejenisnya. Pemusatan perhatian ini bertujuan untuk semakin mengurangi scanning pikiran terhadap lingkungan dengan tujuan seperti yang telah dijelaskan di atas.
Kelima, operator umumnya akan mensugestikan subjek merasa semakin rileks, semakin mengatuk, mata terasa semakin berat. Sugesti ini membangkitkan berbagai memori yang berhubungan dengan kondisi mengantuk dan atau rileks dan ini membantu proses induksi karena mengantuk atau mata terasa berat berarti b-SoC mulai goyah. Sugesti ini berfungsi mengguncang kestabilan b-SoC.
Langkah Keenam, dalam memberikan sugesti untuk rileks, operator mengatakan bahwa subjek akan mengalami atau masuk ke dalam kondisi yang mirip dengan tidur namun bukan seperti tidur yang biasa dialami di malam hari, subjek tetap sadar dan bisa mendengar suara operator. Sugesti ini adalah patterning force yang spesifik.
Sugesti yang mengatakan bahwa apa yang dialami subjek mirip dengan tidur bertujuan mengguncang kestabilan b-SoC. Operator tidak ingin subjek tertidur dan untuk itu ia memberikan patterning force untuk menghasilkan kondisi pasif yang mirip seperti kondisi tidur namun subjek tetap bisa mendengar suaranya.
Ketujuh, saat subjek sudah pasif dan rileks, operator selanjutnya memberikan sugesti yang berhubungan dengan otot tubuh. Operator biasanya mensugestikan otot-otot di seluruh tubuh subjek terasa berat dan semakin berat, semakin rileks.
Demikianlah selanjutnya hingga subjek berpindah dari kondisi kesadaran normal (b-SoC) dan masuk ke kondisi hipnosis yang dalam (ASC). Contoh di atas adalah prosedur yang bersifat progresif. Artinya perpindahan dari b-SoC ke ASC berlangsung gradual. Lalu, bagaimana dengan teknik shock induction atau induksi dengan menggunakan kejutan pada sistem saraf?
Sebenarnya secara prinsip sama saja. Shock induction dilakukan dengan cara secara tiba-tiba, di luar dugaan subjek, operator melakukan kejutan pada sistem saraf subjek. Kejutan ini bisa dalam bentuk secara mendadak menarik lengan, tangan, atau tubuh subjek. Intinya adalah kondisi kesadaran normal (b-SoC) secara tiba-tiba, dengan cara yang sangat dahsyat diguncang, dengan disrupting force, sehingga menjadi kacau, dan setelah itu langsung diberikan satu sugesti “Tidur” yang merupakan patterning force.
Saat kejutan dilakukan maka RAS (reticular activating system) akan terbuka sekitar ½ sampai ¾ detik. Melalui celah yang sangat sempit inilah patterning force dimasukkan dengan nada yang tegas, pasti, dan bersifat sangat paternal dan subjek langsung masuk ke kondisi hipnosis (ASC) yang dalam. Namun bila kondisi ini tidak diperdalam atau dipertahankan, misalnya tidak dilakukan deepening, maka subjek dengan sendirinya akan keluar dari kondisi hipnosis (ASC).
Mengapa subjek bisa keluar sendiri? Karena proses stabilisasi lainnya, yang tidak terkena pengaruh guncangan shock induction, akan segera bekerja memulihkan dan mengembalikan kondisi kesadaran subjek ke kondisi sadar normal atau b-SoC.

Meditasi dan Kondisi Meditatif
Kita mengenal dua jenis meditasi. Pertama, Samatha Bhavana atau Meditasi Ketenangan, dan yang kedua adalah Vipassana Bhavana atau Meditasi Pandangan Terang. Bagaimana proses seseorang berpindah dari kondisi kesadaran normal dan masuk ke dalam kondisi meditatif?
Samatha Bhavana dilakukan dengan memusatkan perhatian pada objek tertentu. Objek ini bisa berupa objek eskternal, seperti satu titik, cahaya lilin, atau objek meditasi lain, dan bisa juga objek internal seperti napas, atau naik turunnya perut saat bernapas.
Sama seperti dalam induksi hipnosis, meditator diminta untuk mempertahankan fokusnya pada objek yang telah dipilih. Bila pikirannya beralih fokus atau memikirkan hal lain maka meditator membawa kembali pikirannya, dengan lembut, untuk kembali fokus pada objek meditasi dan terus berupaya mempertahankan fokus ini.
Membawa kembali, dengan lembut, pikiran yang lepas atau beralih fokus untuk bisa kembali fokus pada objek meditasi adalah hal yang penting. Jika meditator memaksa atau membawa kembali fokusnya dengan buru-buru atau melawan gangguan yang muncul, maka hal ini justru mengirim sejumlah besar energi perhatian atau kesadaran pada gangguan ini dan membuat energi tetap mengalir di dalam sistem. Hal ini justru semakin menstabilkan kondisi kesadaran normal dan meditator tidak bisa masuk ke kondisi meditatif yang diinginkan.
Pemusatan perhatian pada objek sangat membatasi ragam input yang masuk ke sistem, menghambat proses berpikir, mencegah pikiran melakukan scanning pada lingkungan, dan secara umum mengurangi energi perhatian/kesadaran dan mengurangi aktivitas dari berbagai subsistem yang mempertahankan kondisi kesadaran normal.
Saat meditator memusatkan perhatiannya pada satu objek, baik internal maupun eksternal, akan menghasilkan fenomena yang tidak lazim yang disebabkan oleh kelelahan pada reseptor. Namun fenomena ini justru harus diabaikan karena akan menjadi penghalang atau batu sandungan dalam proses meditasi.
Kebanyakan meditasi dilakukan dengan postur tubuh dalam posisi duduk tegak namun tetap nyaman, di mana tulang belakang, leher, dan kepala berada dalam satu garis lurus. Hanya dibutuhkan sedikit tenaga otot untuk mempertahankan posisi ini. Sama seperti posisi nyaman yang dialami oleh subjek hipnosis, postur tubuh yang nyaman dalam meditasi membuat berbagai reseptor kinestetik menjadi nonaktif dan mengakibatkan pudarnya citra tubuh.
Berbeda dengan proses masuk ke kondisi tidur, di mana seluruh tubuh sangat rileks dan tidak perlu ada upaya apapun untuk mempertahankan postur tubuh, dalam proses meditasi masih dibutuhkan sedikit energi otot untuk mempertahankan postur tubuh agar tetap tegak. Dengan demikian meditator, serileks apapun kondisinya, tidak akan masuk ke kondisi tidur. Bila sampai terjadi meditator tertidur maka ia tidak akan dapat mempertahankan posisi tubuhnya yang tegak dan akibatnya tubuhnya akan jatuh.
Saat meditator berhasil mencapai kondisi meditatif yang dalam (ASC) maka ia akan mengalami suatu kondisi yang disebut dengan “void”, “kosong”, “hening”. Dalam kondisi ini semua fungsi psikologis, untuk sementara waktu, menjadi tidak berfungsi. Tetap ada kesadaran namun tidak ada objek kesadaran.
Banyak orang telah mencoba bermeditasi mengikuti petunjuk atau langkah tertentu. Mereka bukannya berhasil mencapai kondisi kesadaran tertentu (ASC) yang diinginkan namun yang didapat adalah tubuh yang lelah, sakit punggung, dan kaki yang “kesemutan”.
Duduk tegak dengan psotur yang benar dan mencoba melakukan teknik meditasi tertentu memang akan mengguncang beberapa proses feedback yang menstabilkan kesadaran normal (b-SoC) anda. Namun jika proses lainnya masih aktif, misalnya pikiran yang terus aktif, maka tidak akan pernah terjadi pergeseran kesadaran dari b-SoC ke ASC.
Vipassana Bhavana atau Meditasi Pandangan Terang dilakukan dengan postur tubuh yang sama dengan Samatha Bhavana. Dengan demikian semua pengaruh postur dalam mengguncang b-SoC seperti yang terjadi dalam samatha bhavana juga terjadi dalam vipassan bhavana.
Bedanya adalah dalam vipassana bhavana meditator menyadari sepenuhnya sensasi, perasaan, bentuk pikiran yang muncul. Meditator hanya menyadari sepenuhnya, tidak menerima, tidak menolak, tidak menganalisa, tidak memberi komentar atau penilaian, dan tidak mengidentifikasi.
Nonidentifikasi ini mencegah energi perhatian/kesadaran terperangkap dalam proses otomatis dan habitual dalam mempertahankan kesadaran normal (b-SoC). Dengan demikian, sementara kesadaran tetap terjaga, aktivitas berbagai subsistem psikologis perlahan tapi pasti mulai berkurang dan pudar sampai satu titik di mana, secara tiba-tiba, terjadi pergeseran kesadaran masuk ke kondisi meditatif yang dalam, yang ditandai dengan meningkatnya persepsi dan deotomatisasi subsistem Input-Processing.
Proses berpindahnya kesadaran meditator dari kesadaran normal (b-SoC) ke kondisi meditatif (ASC) sama dengan proses yang terjadi pada subjek hipnosis. Bedanya adalah bila meditator melakukan prosesnya sendiri sedangkan subjek hipnosis dibantu oleh operator.
~ Adi W. Gunawan adalah Indonesia Leading Expert in Mind Technology yang telah menulis 15 buku best seller. Adi dapat dihubungi di www.quantum-hypnosis.com, www.adiwgunawan.com.
________________________________

ADD/ADHD Menurut Perspektif Cara Kerja Otak dan Pikiran

Dua hari berturut-turut saya mendapat klien yang “unik”. Pertama seorang murid SD kelas 2 yang sangat aktif. Kemarin, seorang murid SMP kelas 3 dari Malang yang juga punya history pernah sangat aktif waktu kecil. Kedua klien ini mendapat “diagnosa” ADD/ADHD.

Saat melakukan intake interview saya menemukan jawaban yang memvalidasi “kecurigaan” saya selama ini terhadap penyebab ADD/ADHD dari sudut ilmu pikiran. Hasil intake interview ini saya bandingkan dengan intake interview yang saya lakukan terhadap lebih dari 20 orang klien dengan diagnosa yang sama, ADD/ADHD. Hasilnya? Konsisten.
 
Dari apa yang saya pelajari sejauh ini ada 2 penyebab ADD/ADHD:
1. Masalah pada otak (fisik/hardware)
2. Masalah pada pikiran (software)

Masalah Pada Otak
Dari berbagai riset mengenai otak, didapatkan hasil yang menarik yaitu bahwa otak kiri dan kanan penderita ADD/ADHD bekerja dengan “kecepatan” yang berbeda. Dulu saya bingung dengan pernyataan ini. Namun setelah mendalami Brain Wave 1 di Lugano, Swiss, dibawah bimbingan langsung Prof. Sean Adams, penemu BW 1, akhirnya saya memahaminya.
Memang benar, bila kita mengukur pola gelombang otak penderita ADD/ADHD maka terlihat sangat jelas bahwa otak kanan jauh lebih aktif daripada otak kiri. Nah, berangkat dari temuan ini para pakar lalu merancang alat untuk bisa membantu mensinkronkan atau menyeimbangkan kerja otak kiri dan kanan.

Ketidakseimbangan otak kiri dan kanan bisa muncul akibat dari sebab-sebab berikut: 
1. Otak kekurangan suplai oksigen. Biasanya terjadi saat persalinan yang sulit, di mana tali pusar melilit di leher bayi. Bisa juga terjadi karena anak sempat tenggelam sehingga tidak bisa bernapas untuk jangka waktu yang lama.
2. Benturan keras di kepala.
3. Panas yang tinggi sehingga anak mengalami kejang.
Panas ini bisa disebabkan oleh infeksi, radang, atau akibat dari pemberian vaksin yang mengakibatkan anak demam dan panas tinggi.
Ada beberapa cara untuk menyeimbangkan otak kiri dan kanan. Yang paling murah dan mudah dilakukan adalah dengan menggunakan latihan Brain Gym. Untuk lebih jelas mengenai Brain Gym bisa baca bukunya. Sudah diterbitkan Gramedia plus ada videonya.

Kedua, dengan menggunakan terapi suara atau Sound Therapy. Terapi ini berdasarkan penelitian Dr. Alfred Tomatis di Perancis. Caranya adalah dengan mendengar musik, dengan frekuensi khusus, di telinga kiri dan kanan penderita ADD/ADHD, sehingga akan terjadi keseimbangan. Musik ini dulunya hanya bisa didengarkan di klinik khusus. Namun berkat perkembangan teknologi maka sudah bisa “dikasetkan”, dengan jenis pita khusus, dan hanya bisa didengarkan dengan menggunakan headphone atau earphone khusus yang mampu melewatkan frekuensi tinggi hingga mencapai 18.000 Hz. Player untuk kaset inipun harus khusus merek dengan tipe tertentu.
Mengapa khusus? Ya itu tadi. Player kaset yang biasa-biasa tidak akan mampu memainkan musik dengan frekuensi tinggi. Ini juga salah satu alasan mengapa rekaman lagu atau musiknya tidak bisa menggunakan media CD.

Saat ini di pasaran ada sangat banyak “teknologi otak” yang menawarkan program penyeimbangan otak kiri dan kanan. Beberapa yang pernah saya lihat made in China dengan lisensi dari Amerika. Saat di-browsing situsnya tidak menjelaskan dasar teori dan riset yang mendasasari pembuatan alat ini. So.. hati-hati ya…

Cara yang paling umum dilakukan untuk menangani anak ADD/ADHD adalah dengan memberikan Ritalin. Ritalin cara kerjanya adalah dengan menekan pusat “keaktifan” , di otak, sehingga anak terkesan “rileks” dan bisa tenang. Namun obat ini hanya mengobati simtom, bukan akar masalah. Begitu pengaruh obat habis maka anak kembali ke kondisi awal, seperti sebelum minum obat.
Ada pakar yang berpendapat bahwa ADD/ADHD ini adalah penyakit bawaan atau congenital disorder. Yang paling banyak mengalami masalah ini adalah anak laki (20%), sedangkan anak perempuan lebih sedikit yaitu hanya 8%.

Ketiga, dengan menggunakan Sound Therapy yang dikombinasi dengan Light Therapy (terapi dengan cahaya). Kombinasi ini yang digunakan di mesin BW 1. Untuk cahaya, yang digunakan adalah cahaya dengan panjang gelombang yang sangat khusus dan presisi, yang menghasilkan cahaya berwarna kuning keemasan, seperti warna kuning yang ada di pusat api lilin. Dari riset didapatkan temuan bahwa cahaya kuning keemasan mempunyai efek yang paling maksimal terhadap otak.
Untuk lebih jelas mengenai BW 1 bisa dilihat di www.alphalearning.ch . Sedangkan buku yang membahas mengenai berbagai riset di dunia mind technology judulnya Mega Brain karya Michael Hutchinson. Buku ini sudah tidak dicetak lagi. Sudah out of print dan menjadi buku classic. Saya dapatnya yang bekas. Inipun setelah susah payah berburu di berbagai situs yang menjual buku-buku bekas.

Masalah Pada Pikiran
Penanganan anak ADD/ADHD dengan paradigma ilmu pikiran (software) tentunya berbeda bila kita menggunakan paradigma cara kerja otak (hardware).
Dari berbagai literatur yang saya pelajari disimpulkan bahwa manusia terlahir dengan kondisi pikiran yang sempurna. Saat lahir manusia hanya punya satu jenis pikiran yaitu Pikiran Bawah Sadar. Pikiran Bawah Sadar sudah aktif sempurna sejak bayi berusia (tiga) bulan di dalam kandungan ibunya dan merekam dengan sempurna semua peristiwa yang dialami ibunya, baik positif maupun negatif, dan juga apa yang ia, si jabang bayi, alami atau rasakan.
Pikiran Bawah Sadar terdiri atas dua bagian. Pertama, bagian yang disebut dengan Pikiran Nir Sadar atau Unconscious Mind, atau ada juga yang menyebutnya sebagai Primitive Area. Kedua, bagian yang disebut dengan Modern Memory Area atau yang lebih dikenal dengan nama Subconscious Mind. Jika orang berkata atau bicara mengenai Pikiran Bawah Sadar maka yang mereka maksud adalah Modern Memory Area ini.
Pikiran Nir Sadar berisi berbagai program, yang “ditulis” oleh Sang Pencipta, untuk kelangsungan hidup kita. Program-program ini antara lain untuk menjalankan fungsi tubuh otonom, seperti pernapasan, detak jantung, pencernaan, sistem kekebalan tubuh, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kelangsungan hidup (survival).

Bila di komputer, program-program di Pikiran Nir Sadar ini adalah BIOS atau Basic Input Ouput System. Tanpa BIOS komputer tidak akan bisa jalan. BIOS dibutuhkan untuk meng-instal Operating System (OS). Setelah OS selesai kita instal barulah kita meng-instal berbagai program aplikasi.
Nah, apa hubungan cerita saya ini dengan anak yang ADD/ADHD?
Begini, hasil penelusuran terhadap sumber penyebab ADD/ADHD, dari sudut ilmu pikiran, didapatkan hasil bahwa ADD/ADHD ini sebenarnya hanyalah simtom atau gejala dari suatu masalah.
Apa masalahnya?

Perilaku ADD/ADHD ini adalah efek dari kecemasan yang tinggi, yang dialami oleh anak sewaktu kecil. Karena anak cemas maka pikirannya bekerja sangat aktif, memunculkan berbagai gambar mental atau buah pikir, dengan tujuan agar anak bisa sibuk memikirkan gambar mental atau buah pikir itu sehingga dengan sendirinya kecemasan mereka akan berkurang.
Kita, orang dewasa, jika merasa cemas, apa yang kita lakukan?
Kita akan menyibukkan diri kita, benar nggak? Bahkan, bila sudah cukup parah, maka kita akan mengalami OCD (Obsessive Compulsive Disorder) , antara lain seperti sering cuci tangan, memeriksa kunci berkali-kali, menghitung angka naik turun (counting numbers), atau melafalkan alfabet.
Pertanyaannya sekarang adalah, “Mengapa anak cemas? Apa yang menyebabkan anak cemas?”
Jawabannya sederhana sekali yaitu karena tangki cinta anak kosong. Tingkat kecemasan seorang anak berbanding terbalik dengan isi tangki cinta. Semakin penuh isi tangki cinta maka anak akan semakin rileks, percaya diri, dan kuat menghadapi berbagai “benturan” emosi. Semakin kosong tangkinya maka anak akan semakin lemah dan cemas. Semakin cemas anak maka akan semakin banyak gambar mental atau buah pikir yang muncul. Ini adalah hal yang sangat alamiah dan normal. Saya katakan normal karena memang sudah menjadi salah satu fungsi dari Pikiran Bawah Sadar yaitu untuk melindungi diri kita dari bahaya nyata, atau yang dipandang sebagai bahaya, baik yang bersifat fisik maupun psikis.
Nah, agar anak bisa “selamat” dari tekanan mental (baca: kecemasan tinggi) maka Pikiran Bawah Sadar akan menyibukkan pikiran anak, agar tidak memikirkan kecemasannya, dengan memunculkan sangat banyak gambar mental atau buah pikir secara cepat. Lama-lama defense mechanism ini menjadi suatu kebiasaan atau habit dan menjadi ADD/ADHD
Langkah awal membantu anak kita yang ADD/ADHD adalah dengan mengurangi tingkat kecemasannya. Kalau bisa dihilangkan sama sekali.

Bagaimana caranya?
Mulailah dengan mengisi tangki cinta anak. Tangki cinta ini ada dua. Yang satu diisi oleh ibu dan satu lagi oleh ayah. Tidak bisa dirangkap. Harus diisi oleh masing-masing orangtua.
Cara mengisinya adalah dengan menggunakan bahasa cinta. Ada lima bahasa cinta yang bisa kita gunakan.
Pertama, tatapan mata. Jika berkomunikasi dengan anak, pandanglah matanya dengan lembut dan penuh cinta kasih. Tatapan mata ini sangat penting.

Kedua, sentuhan fisik . Anak harus sering mendapat sentuhan fisik, baik itu pelukan atau kecupan sayang dari orangtuanya.

Ketiga, waktu yang berkualitas. Orangtua perlu menyediakan waktu yang cukup dengan intensitas perhatian dan kedekatan emosi yang baik dengan anak. Waktu berkualitas juga meliputi kuantitas. Tanpa kuantitas yang cukup maka tidak ada yang namanya waktu berkualitas.

Keempat, kata-kata pendukung. Orangtua sering mengucapkan kata-kata negatif. Tujuannya sebenarnya positif yaitu ingin memacu anak agar berubah menjadi lebih baik. Namun dari perspektif ilmu pikiran, kita harus mengucapkan hanya hal-hal yang positif, hal-hal yang menguatkan dan meneguhkan hati anak.

Kelima, pemberian hadiah. Hadiah yang dimaksud di sini tidak perlu hadiah yang besar atau mahal. Cukup hadiah-hadiah kecil Misalnya orangtua pas ke luar kota atau dari mal, belikan anak sesuatu yang ia suka dan tidak disangka-sangka.
Anak-anak sekarang banyak yang cemas karena orangtua sibuk cari uang atau bekerja sehingga mereka hanya diserahkan kepada baby sitter. Baby sitter bisa memberikan makanan pada tubuh fisiknya namun tidak bagi jiwanya. Belum lagi bila baby sitter ini sering bersikap keras terhadap anak. Efeknya akan sangat destruktif. Baby sitter hanya bisa mengisi tangki fisik (baca: perut) anak tapi tidak bisa mengisi tangki cinta anak.

Saat anak sudah agak besar, kecemasan bisa timbul saat mulai masuk sekolah. Tekanan sistem pendidikan terhadap anak kita, ditambah lagi bila lingkungan sekolah dan guru tidak kondusif, membuat anak semakin cemas. Tekanan bisa juga timbul dari orangtua yang overconfident terhadap kemampuan anaknya sehingga menuntut anak harus bisa mencapai prestasi yang tinggi. Sayangnya tuntutan yang tinggi ini tidak disertai dengan memberikan anak berbagai strategi dan teknik pembelajaran yang sesuai dengan keunikan anak. Akibatnya anak menjadi tegang, cemas, dan proses belajar menjadi suatu hal yang menyakitkan.

Seringkali, dan kasus ini sangat banyak saya temui, kecemasan anak justru merupakan hasil “transfer” dari orangtuanya, terutama ibunya. Banyak ibu yang cemas, mungkin karena ini adalah anak pertama, sehingga ingin yang terbaik untuk anaknya. Karena ingin yang terbaik, Ibu ini menjadi cemas dan selalu was-was terhadap perkembangan anaknya.

Semakin si ibu cemas maka semakin cemas pula si anak. Dan ibu yang tidak tahu mengenai hal ini akhirnya bingung sendiri dan mencari terapis untuk membantu anaknya yang “bermasalah”. Terapis melakukant terapi pada anak tapi tidak pada si ibu. Hasilnya? Tidak bisa optimal.
Saat saya menceritakan hal ini kepada orangtua klien saya, ayah klien saya membenarkan bahwa istrinya sangat cemas terhadap anaknya. Sedemikian khawatirnya si istri kalau anaknya mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, sampai-sampai ia tidak pernah mempercayakan perawatan anaknya kepada orang lain. Semua dikerjakan sendiri.
Salah satu bentuk kecemasannya adalah untuk selalu mensterilkan semua peralatan makan si anak. Ini benar-benar merepotkan. Botol susu, piring, gelas, sendok, garpu, semuanya harus disterilkan, dicelupkan ke dalam air mendidih agar kuman mati semua. Bahkan saat liburan ke Bali si ibu sampai membawa panci yang biasa ia gunakan untuk mensterilkan peralatan si anak.
Klien saya, murid kelas 2 SD yang ADD, mampu duduk diam dan tenang saat diminta memvisualisasi, di pikirannya, jalan yang harus ditempuh dari satu mal ke rumahnya. Anak ini mampu dengan sangat jelas membayangkan jalan yang harus dilalui, ada apa saja di jalan itu, harus belok ke mana, dan akhirnya sampai di rumah.

Nah, apa yang terjadi saat saat anak ini melakukan visualisasi?
Tanpa si anak sadari saya meminta ia memilih hanya satu objek pikiran untuk ia pikirkan. Saat itu ia melakukan konsentrasi. Dan karena ia “memutuskan” hanya memilih satu objek pikiran maka gambar mental yang lain, yang muncul dengan sangat cepat di pikirannya, diabaikan. Dengan demikian ia bisa menjadi tenang dan rileks. Hal ini yang perlu dilatih. Anak harus bisa mengarahkan pikiran pada hal-hal yang memang ia inginkan. Jika kita bisa membuat anak terbiasa melakukan hal ini maka cepat atau lambat kita membentuk kebiasaan atau habit baru dalam diri anak.
Anak yang pikirannya sangat aktif akan sulit konsentrasi dan belajar. Umumnya mereka dilabel sebagai anak yang menjadi trouble maker di kelas. Jika sudah agak besar, saat belajar mereka akan menyalakan televisi, menyalakan radio atau tape, sambil melakukan aktivitas belajar. Mengapa mereka bisa belajar ditengah berbagai “keributan” atau “distorsi” ini?
Yang mereka lakukan adalah mereka membuat sibuk bagian pikiran yang selama ini mengganggu konsentrasi mereka. Bagian ini mendengarkan suara acara televisi dan radio. Bagian ini menjadi sibuk. Sehingga anak bisa fokus pada materi yang ia pelajari.
Oh ya, satu hal lagi yang bisa menyebabkan anak mengalami ADD/ADHD yaitu salah diagnosa. Seringkali anak yang sangat aktif, yang sebenarnya tidak mengalami ADD/ADHD, dengan mudahnya, oleh lingkungan atau guru di sekolah, diberi label anak hiperaktif. Pada saat kita memberikan label pada anak maka label ini akan melekat pada diri si anak. Dengan pengulangan atau penguatan (reinforcement) , karena lingkungan memperlakukan dirinya sebagai anak ADD/ADHD, maka cepat atau lambat label ini akan menjadi belief yang terintegrasi ke belief system anak dan akhirnya menjadi identity. Kalau sudah jadi identity… wah sulit sekali untuk bisa dibereskan. Identity ini adalah program yang bersifat self fullfiling prophecy.

Penanganan Anak ADD/ADHD
Saya biasa melakukan penanganan dengan menggunakan pendekatan kombinasi. Jika dirasa perlu saya akan menggnakan BW 1. Pertama saya akan mengukur kondisi gelombang otak kiri dan kanan. Dari hasil pengukuran ini selanjutnya dengan menggunakan Optical Neuron Synergizer saya melakukan tune up otak dan menyeimbangkan otak kiri dan kanan.
Pada umumnya hanya dengan satu kali sesi tune up sudah bisa seimbang. Namun untuk menstabilkan saya butuh lima sesi. Efek penyeimbangan bersifat permanen. Ini pendekatan terapi dari sisi hardware.
Untuk software, saya menggunakan berbagai teknik ilmu pikiran untuk membantu anak menghilangkan kecemasannya. Selanjutnya saya melatih dan membantu anak untuk bisa mengarahkan pikiran sesuai dengan yang mereka inginkan.
Keterlibatan orangtua juga sangat saya tekankan. Orangtua juga perlu diajari beberapa tenik yang bisa mereka lakukan di rumah agar bisa membantu anak mereka. Salah satunya adalah cara berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar anak sehingga bisa memasukkan sugesti positif yang membantu perkembangan anak.
Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pakar pendidikan dan mind technology,pembicara publik, dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis dua belas best seller “Born to be a Genius”, “Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success”, “Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?”, “Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication”, “Becoming a Money Magnet”, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, dan “Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring”, “Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian”, “Kesalahan Fatal Dalam Mengejar Impian 2, dan “Five Principles to Turn Your Dreams Into Reality”, dan The Secret of Mindset . Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com dan www.adiwgunawan.com.
_______________________________________

Link Blog Sobat

Sarang Semut Murah Asli Papua
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes