ViralGen Referral Shopping
Tampilkan postingan dengan label Artikel Komunitas Pembelajar - Kolom Bersama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Komunitas Pembelajar - Kolom Bersama. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 April 2013

Bulatkan Tekad dan Tawakkal

Oleh: Agus Riyanto
Suatu hari seorang sahabat bertanya melalui email, “Kalau ada orang yang terlahir dengan otak yang cerdas mereka mudah meraih kesuksesan yang mereka impikan. Lha, bagi orang yang pikirannya pas-pasan, bagaimana saya bisa sukses dalam hidup ini?”
Sahabat pembaca, sering kali kita mendengar orang lain di sekitar kita menceritakan dirinya. Namun, jika kita amati mereka lebih menonjolkan kekurangan atau rasa ketidakberdayaan yang mereka rasa ada padanya. Mereka berfokus pada sesuatu yang “negatif” dari diri mereka sendiri. Saya sengaja memberi tanda petik pada kata “negatif” karena ini sebenarnya hanya persepsi mereka saja. Kalau menilai keterbatasan diri, rasanya banyak orang yang lebih punya alasan. Alasan yang menguatkan bahwa dirinya tidak bisa ini, tidak bisa itu dan sebagainya.

Dalam kitab suci-Nya, Allah SWT telah berfirman yang artinya, “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.
Jadi ada dua unsur yang harus kita miliki sebelum kita melakukan sesuatu yang diharapkan memberikan perubahan lebih baik terhadap kehidupan kita—tidak peduli keterbatasan apa pun yang ada pada kita. Pikirannya pas-pasan ataupun kurang pandai secara akademik, semua itu bukan hambatan untuk sukses. Dengan kedua unsure yang disebutkan dalam ayat di atas, apa yang kita lakukan menjadi lebih berenergi dan dengan target yang jelas dan terukur, keberhasilan bisa lebih kita harapkan akan tercapai.

Unsur pertama: TEKAD 
Tekad adalah awal dari sebuah komitmen. Tekad adalah saudara kembar niat. Tekad adalah niat yang bulat untuk melakukan atau meraih sesuatu. Tekad adalah sesuatu yang timbul dari dalam diri, dari hati yang terdalam, yang mana dengan itu seluruh sumber daya yang ada pada diri kita akan bergerak mengikuti untuk mendapatkan atau mewujudkan apa yang kita tekadkan. Tekad adalah tonggak sebelum kita melangkah. Dengan tekad yang bulat, kita sadar akan apa yang menjadi tujuan kita. Misalnya tekad: saya akan meraih sukses! Sukses sesuai definisi kita sendiri. Dengan tekad yang bulat niscaya akan terbuka jalan untuk mewujudkannya. Mungkin pada saat niat itu terpatri dalam hati, kita bingung memikirkan mekanismenya agar bisa terwujud. Tapi jika niat itu sudah menjadi janji hati dan terekam di pikiran bawah sadar, maka gelombang pikiran kita akan mencari cara untuk mewujudkannya, menyelaraskan diri dengan kekuatan tak terbatas yang dengan kehendak-Nya segala sesuatu akan terjadi.
Tentukan dulu goal-nya, dan kita tekadkan untuk meraihnya.

Unsur kedua: TAWAKKAL Tekad saja tidak cukup untuk mewujudkan impian, karena akan kita jumpai berbagai hal di sekitar kita yang membuat apa yang kita tekadkan lama-lama surut dan pudar. Sering juga orang-orang di sekitar kita membuat motivasi dan antusiasme kita dalam meraih impian menjadi kerdil. Mereka seringnya meyakinkan bahwa sesuatu yang bisa kita raih itu hanya mimpi belaka. Dari situ akan timbul keraguan-keraguan akibat dari pengaruh negatif yang dihembuskan oleh para vampire penghisap optimisme tersebut. 

Kebanyakan orang kadang lebih senang melihat kita susah daripada melihat kita maju. Maka bergaullah dengan orang-orang yang positif dan yang bisa membuat kita termotivasi atau terinspirasi untuk terus maju dan mengoptimalkan potensi diri. Orang-orang seperti itu bisa menjadi sahabat dan penasihat di saat kita terpuruk dan hampir putus asa. Bersama mereka, kita akan melihat bahwa ada secercah harapan yang terbentang di depan sana. 

Ketika Wright bersaudara sedang bermimpi ingin terbang dan menciptakan pesawat maka orang-orang di sekelilingnya saat itu menganggap dia gila. Menerbangkan besi pada saat itu merupakan sebuah ide gila yang tidak bisa diterima kebanyakan orang pada saat itu. Namun justru karena kegilaan itulah, sekarang kita bisa bepergian melewati laut, samudera dan benua dalam waktu yang sangat singkat. Bahkan manusia telah mendaratkan kakinya ke satelit bumi, yakni bulan, karena daya kreatif yang digunakan tersebut. Dan ke depan, pasti akan ada penemuan-penemuan baru yang lebih spektakuler lagi. Sebelum dunia ini kiamat, proses kreatif tidak akan berhenti.

Dan sesuai dengan judul artikel ini, kita tentu juga memiliki daya kreatif karunia Allah SWT yang telah mencipta sejarah hidup kita. Kita memiliki imajinasi, impian dan tujuan yang ingin kita wujudkan dalam hidup kita. Tentu saja itu semua kita harap memiliki nilai, tidak hanya keduniawian, tapi juga yang bernilai ibadah untuk bekal pulang ke akhirat. Ketika kita harus mempertanggungjawabkan perbuatan kita ketika di dunia di hadapan mahkamah Allah SWT.
Untuk itu, selain harus memiliki unsur pertama, yakni TEKAD yang kokoh, kita juga harus menyempurnakan ikhtiar atau usaha lahir dan kemudian memasrahkan hasil akhir ikhtiar kita kepada Allah SWT, atau ber-TAWAKKAL. 

Kenapa kita harus bertawakkal?
Karena kita hanya makhluk yang lemah. Kita tidak memiliki daya dan kekuatan selain dari Allah SWT. “Laa haula wa laa quwwata illa billaah…”. Kita hanya bisa menyempurnakan ikhtiar, sedangkan hasilnya tidak bisa kita jamin 100% sesuai keinginan kita. Namun jika kita sombong bahwa hasilnya pasti sesuai kehendak kita maka di saat hasil akhir yang kita nanti tidak sesuai keinginan maka tidak ada lagi yang tersisa selain kehampaan dan keputusasaan. Untuk itu, tugas kita memang berusaha secara lahir dan batin, namun mengenai hasil akhirnya kita serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT karena Dia-lah yang tahu mana yang terbaik untuk kita.
Jadi, setelah kita memiliki tekad yang bulat dan kuat, kemudian kita berusaha secara nyata untuk mewujudkan goal yang kita tekadkan maka hasilnya kita pasrahkan kepada Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, kita akan selalu merasa bahagia dan optimis jika hasil yang kita dapatkan belum sesuai keinginan. Dan kita tidak akan putus asa, namun tetap berusaha, bangkit dan berjuang lagi sampai akhir menyongsong takdir terbaik hidup kita.

Bulatkan tekad, sempurnakan ikhtiar dan bertawakkal-lah… semoga keberhasilan menjadi milik kita. Semoga bermanfaat. [AR]
* Agus Riyanto, Penulis buku “Born To Be A Champion”, bisa dihubungi di webblog http://agusriyanto.wordpress.com atau melalui email: agus4ever@gmail.com.

Minggu, 07 April 2013

Kemudahan Itu Ada Setelah Kesulitan atau Bersama Kesulitan?

Oleh: Ardian Wahyudi

Pernahkan Anda mengalami kondisi di mana ban mobil Anda bocor di jalan tol sementara Anda memiliki agenda rapat penting yang melibatkan keuntungan proyek ratusan juta rupiah yang akan segera dimulai?

Atau pernahkah Anda terjebak pada kondisi di mana anda berada di dalam bus menuju ke bandara di mana pesawat Anda akan segera berangkat tetapi Anda terjebak di dalam kemacetan lalu lintas?
Kira-kira bagaimana sikap dan reaksi Anda?

Untuk kasus pertama jika sikap anda Adalah dengan segera membuka pintu mobil, memasang segi tiga pengaman di belakang mobil Anda, lalu mengambil dongkrak dan ban pengganti, kemudian menyingsingkan lengan baju putih Anda dan segera bercucuran keringat mengganti ban mobil Anda. Setelah beres mengganti ban mobil, Anda memacu kendaraan Anda 150 km/jam menuju tempat rapat dan masih untung tiba dengan kondisi sehat, tetapi sesampainya di sana tanpa merapikan baju, Anda berlari menuju resepsionis dan di depan resepsionis tersebut Anda mengatakan akan ikut rapat tender. Dengan tersenyum-senyum sang resepsionis mengatakan bahwa “rapatnya udah selesai Pak … Lagian Bapak mau rapat pakai dandan mau perang … mukanya cemong dan hitam semua“. Maka selamat Anda segera dikaruniai kemudahan untuk kecewa atau marah.

Untuk kasus kedua jika sikap Anda adalah dengan segera berdiri dari tempat duduk Anda kemudian berteriak dengan sedikit nada marah kepada sang sopir bus tersebut untuk segera mencari jalan keluar dari kemacetan itu, maka selamat Anda segera akan diberi rasa marah yang lebih besar dari sang sopir bus atau minimum dari penumpang bus yang lainnya.
Atau jika Anda cukup bijaksana mungkin walaupun kedua peristiwa itu membuat Anda rugi secara material yang cukup banyak Anda tetap mengambil hikmah dengan berkata, “pasti ada hikmah di balik semua ini, pasti ada kemudahan di balik kesulitan”. Akan tetapi kalau di kesempatan yang lain saat peristiwa yang sama terjadi lagi dan Anda masih saja melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, maka selamat Anda akan tertinggal dengan kesulitan yang anda alami.
Lalu harus bagaimana dong sikap dan reaksi saya?

Pertama Ubah kata-kata Anda kepada diri sendiri yaitu “pasti ada kemudahan SETELAH kesulitan”. Perhatikan kata SETELAH yang saya tebalkan. Ini adalah kata-kata yang memicu pikiran kita untuk menunggu dan bukan kreatif mencari. Kalaupun mencari yang ditemukan pasti bukan ide yang paling maksimal. Yah minimal seperti contoh di atas. Karena ada kata SETELAH yang mana kalau diterapkan dalam suatu proses maka suatu kejadian akan menunggu sesuatu dulu SETELAH itu baru diproses.

Kedua Saat berada dalam suatu kondisi kesulitan, pejamkan mata Anda dan bayangkan Anda berada pada suatu jalan yang berjajar 3, dan Anda berada di tengah-tengahnya. Sambil berdoa dan berkeyakinan teguh kepada Tuhan, berkatalah pada diri sendiri, “pasti ada kemudahan BERSAMA kesulitan”. 

Rasakan bedanya dengan kata-kata sebelumnya di mana Anda berkata SETELAH, dan saat ini Anda berkata BERSAMA. Artinya anda mengijinkan masalah/kesulitan hadir, tapi Anda juga mengijinkan pikiran kreatif Anda mengatasinya dan memberikan kemudahan (jalan keluarnya). Dengan demikian pikiran kreatif Anda akan menuntun Anda mengarah pada kemudahan yang paling maksimal yang akan diciptakan daya pikir Anda.
Saat menggunakan pola kedua ini yang akan terjadi adalah: Untuk kasus pertama, paling tidak pikiran Anda akan berpikir maksimal dengan segera mengambil HP Anda dan mencari daftar nomor telp taksi atau mencari nama teman Anda yang biasa menggunakan jasa taksi, kemudian menelponnya untuk mendapatkan taksi terdekat. Kemudian sembari menunggu taksi datang kirimkan pesan kepada saudara, sahabat, atau teman yang berada di dekat jalan tol tempat ban mobil Anda bocor, dan mintalah tolong untuk menemui Anda di jalan tol dengan membawa seseorang yang dapat membantu menggantikan ban mobil Anda. Saat saudara, sahabat, atau teman Anda datang menemui Anda di pinggir jalan, serahkan kunci mobil kepada saudara, sahabat, atau teman Anda dan sampaikan mobil akan Anda ambil setelah selesai rapat. 

Setelah taksi datang, segera naiklah serta sampaikan deadline waktu Anda kepada sang sopir, jika perlu sampaikan untuk mencari rute jalan yang singkat untuk sampai di tempat. Sebelum sampai di tempat rapat, cek wajah dan penampilan anda lewat kaca spion sang sopir (itung-itung sekalian biar dikomentari), dan semoga rapatnya berhasil.
Untuk kasus kedua, minimal akan muncul ide kemudahan dari diri Anda. Minimal Anda akan melakukan tindakan seperti mengambil HP dari saku Anda, menelpon pihak maskapai penerbangan yang akan Anda gunakan, dan mengkonfirmasikan kedatangan Anda serta untuk menanyakan batas waktu terakhir untuk melapor. Kemudian Anda turun dari bus yang anda tumpangi dan mengambil bagasi Anda, serta segera menyeberang ke arah di mana ada ojek tersedia. Mintalah kepada ojek untuk mengantarkan Anda ke bandara melalui rute yang paling singkat. Dan semoga Anda tiba tepat pada waktunya.
Betapa luar biasanya kekuatan kata-kata anda karena Anda pasti tahu, “bersama kesulitan pasti ada kemudahan”.
Semoga kesulitan dapat memberkahi Anda, dan selamat mengekplorasi kesulitan Anda.
QS: Alam Nasyrah (94) : 5-6. “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”

* Ardi Bangunjiwo; Traditional hipnotrance. www.aura-aufa.blogspot.com

Berani untuk Memulai

Oleh: Rudy Lim
Tak ada yang mudah untuk memulai sesuatu. Wajar saja jika banyak orang yang takut untuk memulai sesuatu. Motivator dan inspirator muda, Rudy Lim akan memandu Anda untuk memulai sesuatu dengan keyakinan.
Ketika perlahan Anda akan memasuki suatu keadaan yang baru ada suatu ketakutan berkecamuk dalam diri. “Mampukah saya memulainya?” Itulah pertanyaan mendasar yang akan menggoyahkan keyakinan Anda. Hanya ada dua pilihan di depan Anda: mencoba memulainya atau mundur—dan berarti Anda menyerah.
Padahal, Anda tidak akan pernah tahu seberapa besar potensi yang Anda miliki jika tidak berani untuk memulai. Jika diibaratkan hidup adalah sebuah per, Anda tidak akan pernah tahu sepanjang apa per itu dapat ditarik jika Anda tidak pernah mencoba atau takut untuk menariknya.
Maka Mulailah! Atasi rasa takut Anda karena itu adalah hal yang wajar. Bahkan, Anda telah berada di jalan yang tepat. Mengapa? Karena, apa yang akan Anda mulai itu sangat berharga bagi diri Anda.
 
1.Pilihlah Impian Anda (Tentukan Target yang Jelas).
Sebelum Anda memulai dengan hal baru, yakinkan diri Anda bahwa ini merupakan impian yang selama ini ingin Anda raih. Dengan pilihan yang tepat, Anda akan lebih yakin untuk memulai segalanya. Pencapaian seseorang ditentukan dari berbagai hal, mulai dari usahanya, keyakinannya, hingga ada pula yang mengaitkannya dengan keberuntungan. Namun, hal-hal tersebut hanya seperti mutiara-mutiara yang berceceran. Karena, ada satu yang sangat penting untuk menyatukan semua mutiara tersebut, yaitu talinya. Ketika mutiara-mutiara tersebut dirangkai dengan talinya, akan menjadi sebuah kalung yang berharga. Lalu apa sebenarnya tali tersebut dalam hidup kita? Pilihan, pilihan untuk menjadi apa yang Anda inginkan. Orang bisa sukses karena dia memilih untuk sukses. Jika Anda tidak memiliki dasar yang kuat tentang apa yang ingin Anda raih, keyakinan Anda untuk memulai lebih menggoyahkan.
2.Jangan Terpengaruh oleh Kegagalan Masa Lalu.
Jangan pernah menganggap ketakutan yang muncul ketika Anda ingin memulai sesuatu sebagai akibat dari kegagalan di masa lalu. Anggaplah kegagalan itu sebagai suatu proses menuju kesuksesan atau hasil lain dari kesuksesan. Syukuri kegagalan tersebut. Karena, dengan kegagalan, Anda memiliki pengalaman berharga untuk memulai lembaran baru dalam kehidupan ini. Anda belajar untuk mengetahui mana yang baik dan buruk bagi Anda melalui kegagalan.
Ubah mindset tentang diri Anda sendiri. Jika Anda hanya memikirkan tiga kata, yaitu gagal, gagal, dan gagal, Anda akan gagal. Jika mindset Anda tidak diubah, Anda akan terus terpuruk dalam kegagalan.
Jangan pernah menyerah karena kegagalan. Jika Anda menyerah, impian Anda tidak akan tercapai. Parahnya, semakin sering Anda menyerah karena kegagalan, hal tersebut menjadi biasa dalam hidup Anda. Maka, mulailah lembaran baru dalam hidup Anda dengan keyakinan, bukan dengan berkaca pada masa lalu.
Cukup ambil hal-hal penting dari kegagalan yang pernah terjadi. Jangan menjadikannya pedoman bagi hidup Anda. Seperti ketika menyetir mobil, Anda tidak akan terus melihatke kaca spion, melihat apakah kendaraan di belakang Anda lewat, melihat bagaimana kondisi di belakang Anda. Namun, Anda harus fokus melihat ke depan dan hanya sesekali melihat ke belakang untuk melihat keadaan di belakang Anda. Life must go on !
3.Buka Pikiran Anda Terhadap Segala Kemungkinan Baru.
Jangan pernah takut untuk memulai hanya karena orang di sekeliling Anda meragukan kemampun Anda. Buka pikiran Anda dan jadilah diri sendiri. Jika Anda hanya memikirkan tanggapan orang, Anda tidak akan bisa berkembang. Bukan orang lain yang menentukan apa yang harus dilakukan, tapi Anda sendirilah pembuat keputusannya. Maka, ketika keputusan itu sudah yakin Anda buat, jangan pernah mundur. Jangan pernah menyerah !
Sesuatu yang menjatuhkan Anda harus menjadi sesuatu yang memotivasi diri Anda untuk mengejar impian. Semakin banyak orang yang meragukan Anda, seharusnya Anda semakin termotivasi untuk mencapai cita-cita. Buktikan kepada mereka bahwa Anda bisa dan mampu untuk menggapainya.
Seperti sebuah ungkapan “A great pleasure in life is doing what other people say you can’t do it”. Slogan ini adalah cara saya untuk menangkis tanggapan orang. “Setiap kali orang mengatakan kita tidak bisa, malah semakin mendorong kita untuk menggapai impian tersebut.”
Orang bijak berkata bahwa nasib di tangan kita. Kita sendiri yang meramal masa depan kita dan jalan apa yang akan Anda ambil berikutnya. Jika ada lembaran baru yang harus Anda buka, jangan ragu untuk memulai. Yakinkan kepada diri sendiri dan semua orang bahwa Anda bisa. Anda mampu!
Semoga bermanfaat dan Salam Hebat Luar Biasa!
*) Rudy Lim adalah inspirator muda, motivator, trainer, dan public speaker, sekaligus Founder & Director of Youngs Spirit – Seminar & Workshop Training. Rudi dapat dihubungi di nomor handphone 0812 8500 686 atau kunjungi website pribadinya di www.rudylim.com

Belajar Pada Semut

Oleh: Abd Basid
Semut. Ketika terlintas kata semut, mungkin yang muncul di benak kita adalah citranya yang selalu mengganggu. Sering gula kita yang disimpan di dapur dihinggapinya dan bahkan menggigit kita ketika kita sedang enak-enaknya duduk atau tidur. Padahal pada hakikatnya, semut merupakan makhluk yang sangat terampil, sosial, dan cerdas. Makhluk mungil ini, yang (mungkin) tidak pernah dianggap penting dalam kehidupan kita sehari-hari.

Tuhan dalam menciptakan sesuatu pasti tidak rasianya. Namun, kadang kita tidak mengetahuinya. Seperti itu juga semut. Semut secara sekilas memang tidak ada gunanya hidup di sekeliling kita—mungkin karena semut merupakan makhluk kecil dan tak tenar. Namun, kalau kita mau berfikir dan merenungi akan kebaradaannya, maka kita akan menemukan pelajaran berharga darinya.
Dalam al-Quran, mereka yang berpikir tentang alam sehingga mengenali kemahakuasaan Allah, dipuji sebagai teladan bagi orang beriman. Allah berfirman dalam al-Qur’an yang artinya; “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih ber-gantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau. Maka, peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. 3: 190-191).

Berbicara soal semut, maka banyak yang dapat kita ambil hikmah darinya. Kita bisa belajar berperilaku seperti halnya semut-semut yang sering kita lihat dalam keseharian. Diantaranya: 

Pertama, membiasakan salam dan saling menghormati. Kalau kita melihat semut yang sedang berpapasan, maka kita akan menemukan antara semut dengan semut yang lainnya seakan-sekan menunduk berbisik antara satu sama lainnya. Semua itu menggambarkan betapa terbudayanya saling menghormati di dunia semut dengan saling sapa ketika mereka berpapasan. Kalau pada budaya kita, mungkin bisa dianalogikan pada ufsus salam.

Kedua, kekompakan. Tidak ada ceritanya seekor semut bertikai dengan sesamanya. Ketika mereka menemukan makanan, dengan tanpa ada komando mereka akan mengabari pada yang lain dan menggotongnya bersama-sama. Mulia sekali.

Ketiga, rajin. Selama masih ada proyek, entah itu ketika mencari makanan atau sejenisnya, semut tidak akan berhenti untuk hanya istirahat. Pernahkah kita melihat semut itu tidur atau diam? Jarang kita menemukannya—kalau tidak mau dikatakan tidak ada.

Keempat, rajin menabung. Sering kita temukan segerombolan semut menggotong bersama makanan yang mereka temukan. Hal itu menunjukkan betapa rajinnya mereka menabung untuk masa depan mereka selanjutnya. Pepatah “menabung pangkal kaya” juga ada pada dunia semut.
Jika dikaitkan dengan kita, maka menabung di sini tidak hanya terpaku pada uang atau urusan dunia. Akan tetapi, juga termasuk menabung untuk hari akhirat kita. Sudah menabungkah kita? 
Rasulullah bersabda; “bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selama-lamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok” (H.R. Bukhari).

Kelima, pantang menyerah. Semut bergerak 24 jam sehari. Kecepatan berjalan semut, 0,5 km/jam dengan volume yang 1/130, maka kecepatan semut seukuran manusia adalah 80km/jam. Dalam berduel semut mampu mengimbangi binatang atau serangga musuh 5 kali lebih besar dari dirinya (kecuali lebah, laba-laba dan lipan).

Ada sebuah cerita yang penulis kutip dari situs www.christiananswers.net, bercerita tentang perjuangan seekor semut, yang dikutip dari “Lessons from Nature for Youth”-Original: 1836 dan diterjemahkan oleh: Linda S. Alkisah, pada suatu ketika, seorang kesatria pemberani yang bernama Timour the Tartar terpaksa lari dan berlindung dari kejaran musuh-musuhnya dalam sebuah bangunan yang sudah runtuh. Berjam-jam lamanya dia duduk sendirian di tempat tersebut. Sampai pada suatu ketika timbul keinginannya untuk kembali bangkit dan menghilangkan pikiran serta rasa tidak berdaya, dia mengalihkan perhatian pada seekor semut yang berusaha mengangkat sebutir jagung berukuran besar, lebih besar dari badan semut itu sendiri, naik ke atas dinding. Tampaknya usaha semut itu mengalami kegagalan. Lagi dan lagi, semut itu berjuang sekuat tenaga mengangkat sebutir jagung dan ternyata gagal lagi. Tapi semut tidak berputus asa, dia mencoba lagi dan 69 kali Timour melihat butir jagung itu jatuh kembali ke tanah. 
Pada hitungan yang ke-70 akhirnya semut berhasil mengangkat butir jagung itu sampai ke puncak dinding. “Dan rupanya, kata kesatria pemberani yang sebelumnya sempat merasa sangat putus asa, hal ini memberikan rasa keyakina kepada saya dan saya tidak akan pernah melupakan pelajaran yang sangat berharga ini”.
Dari cerita di atas bisa kita ambil hikmah, bahwa dalam kita melakukan dan memperjuangkan segala sesuatu—yang pasti hal positif, dan umpamanya atau ternyata kita gagal, maka kita harus selalu mencoba dan mencoba lagi, dan tetap bertekun sampai pekerjaan tersebut berhasil. Jika seekor semut tidak berkecil hati dengan kegagalan sebanyak 69 kali, kenapa manusia harus berkecil hati?
Sekarang, sudahkan kita berperilaku seperti semut, seperti yang telah disinggung di atas? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing!
[Abd. Basid, pengasuh situs; http://lingkaran-koma.blogspot.com. Aktif sebagai jurnlis Ikatan Mahasiswa Alumni Bata-Bata (IMABA) wilayah Surabaya.]

Teknik Pengambilan Keputusan Bisnis Bagi Orang dengan Otak Kiri

Oleh: Riyanto Suwito
Menurut hasil penelitian Roger Sperry (dalam Adi W. Gunawan, Genius Learning Strategy – 2003) pada tahun 1960-an, kita mengenal adanya dua hemisfir otak, hemisfir kiri dan kanan, yang mempunyai struktur yang berbeda. Perbandingannya adalah sebagai berikut:

OTAK KIRI • Hal-hal yang berurutan • Detail ke global • Membaca berdasar pada fonetik • Kata-kata, simbol, dan huruf • Terstruktur, dapat diprediksi • Fokus internal • Informasi yang faktual

OTAK KANAN • Acak/random • Global ke detail • Membaca menyeluruh • Gambar dan grafik • Melihat dulu atau mengalami sesuatu • Belajar spontan dan alamiah • Fokus eksternal

Jadi jelas bahwa struktur dan fugsi keduanya memang berbeda. Masalahnya terjadi ketika kita cenderung dominant pada salah satunya. Idealnya, manusia menggunakan keduanya secara maksimal dan berimbang – tetapi sangat langka manusia yang mampu menjadi demikian – meskipun hal tersebut bisa dipelajari.
Para entrepreneur atau wirausahawan sering diidentikkan dengan orang yang memiliki kecenderungan otak kanan. Mereka dianggap lebih kreatif dan fleksibel serta memiliki visi yang kuat. Lantas bagaimana dengan orang yang memiliki kecenderungan otak kiri? Apakah mereka bisa dan boleh menjadi seorang wirausahawan? Tentu saja bisa dan boleh! Tergantung seberapa besar keinginan seseorang tersebut.
Kendala yang harus dihadapi memang seringkali lebih besar dibandingkan dengan orang yang berkecenderungan otak kanan – terlebih dalam pengambilan keputusan bisnis yang berisiko – dan seringkali tidak cukup data yang bisa menjadi referensinya.
Karena sejatinya sebuah bisnis adalah permainan pengambilan keputusan pada probabilitas antara peluang dan ancaman – antara keuntungan dan kerugian. Tidak ada hal yang pasti dalam bisnis selain ketidakpastian. Ini adalah masalah besar dan serius bagi seseorang dengan otak kiri.

Bagaimana mungkin bisa mengambil keputusan yang jelas-jelas tidak masuk dalam “logika berfikirnya”…? Ada sebuah nasehat dari wirausahawan sukses dari Jogja dan pemilik Grup Primagama, yaitu Purdhie E. Chandra, “kalau anda ingin memulai bisnis tinggalkan semua pengetahuan yang dimiliki – gunakan jika kita sudah berada dalam bisnis…!?”. Nasehat ini sangat bermanfaat terbukti banyak yang berhasil dimentor secara pribadi maupun melalui EU (Entrepreneurship University) oleh beliau dan menjadi pengusaha sukses, salah satunya yang cukup fenomenal di Yogyakarta yaitu Melia Laundry.
Tetapi menurut saya, yang kebetulan lebih dominant otak kiri sebagai akibat dari pendidikan sebagai sarjana ekonomi jurusan akuntansi – tentu tidak mudah untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa, padahal kita tahu..!? dan tidak mudah lagi ketika hal tersebut masih ditambah dengan berbagai kegagalan bisnis yang saya alami. Sehingga kepercayaan diri (self confidence) saya semakin terkoyak dan babak-belur. Lebih sulit lagi untuk memulai kembali dan bangkit dari keterpurukan. Belum lagi ditambah beban moral saya sebagai seorang pengajar dan pendidik (dosen, guru, trainer dan konsultan) … wah betapa malunya..?!!

Tetapi dari hal tersebut saya memetik sebuah pelajaran berharga dalam pengambilan keputusan bisnis bagi orang dengan otak kiri seperti berikut ini, “Jika kita tidak memiliki cukup data dan fakta yang mendukung – percayai intuisi kita. Akan tetapi jika kita tahu ada data dan fakta yang tersembunyi – cari dan gunakan hal tersebut sebagai alat pengambilan keputusan”.

Dalam hal ini saya terinspirasi oleh ucapan Gandalf (Dalam Lord of The Rings – Trilogy) ketika ditanya mengapa ia menunjukkan jalan satunya yang harus diambil (bukan yang lainnya) diantara dua lorong padahal ia tidak mengetahuinya – ia berkata (setelah mengendus-endus seperti mencium sesuatu), ”hidungku mengatakan bahwa kita harus menuju kesana…” dan ia melanjutkan dengan mengatakan, “bahkan orang paling bijak sekalipun tidak pernah tahu akhir dari semuanya”.
Ini membuat saya lega, karena saya tidak harus berpura-pura tidak tahu apapun – tetapi juga menjadi percaya diri untuk mempercayai “hidung” saya ketika mata ini tertutupi oleh “kegelapan”.
Dan ini juga berarti bahwa kita tidak harus mengakui dengan terpaksa bahwa kita “kosong-melompong” – karena ini akan sangat menyakitkan – bagi harga diri orang yang sedikit banyak telah memiliki “sesuatu dalam kepalanya”. Namun, jika anda melakukan dengan cara yang terbalik atau setengah-setengah – maka bersiaplah untuk menuai kegagalan. Tidak percaya..?!! selamat mencoba.

[Riyanto B. Suwito – entrepreneur, dosen, trainer dan penggiat pemberdayaan masyarakat. Saat ini aktif di PKPEK-Yogyakarta. Bisa dihubungi melalui hp: 081 227 12426, email:riyantosuwito@gmail.com atau berkunjung ke blog di: http://riyantosuwito.wordpress.com)]

Link Blog Sobat

Sarang Semut Murah Asli Papua
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes